Selasa, 10 Mei 2016

REVIEW NOVEL CINTA DAN DENDAM YANG TAK AKAN MEMBAWAMU KE MANA-MANA




CINTA DAN DENDAM YANG TAK AKAN MEMBAWAMU KE MANA-MANA adalah novel ketiga Mas Redy yang saya baca setelah KARENA AKU TAK BUTA dan JILBAB (Love) STORY.


Cinta dan Dendam Yang Tak Akan Membawamu Ke Mana-Mana merupakan kelanjutan kisah dari buku sebelumnya yaitu Jilbab (Love) Story.
Jika di Jilbab (Love) Story penulis menggunakan kehidupan Melody sebagai inti ceritanya. Nah di Cinta dan Dendam Yang Tak Akan Membawamu Ke Mana-Mana kita akan disuguhi sebuah konflik lain yang masih berhubungan dengan buku pertamanya. Jika di buku Jilbab Love Story penulis mengulik habis kehidupan Melody dari bukan siapa-siapa menjadi seorang Diva. Nah di buku kedua kita diajak untuk mengulik kehidupan musuh bebuyutan Melody.. Siapa lagi kalau buka Keyzhia Chan yang terkenal dengan poni khasnya.
..
Sinopsis
Setelah masa kontrak dengan management The Singer usai, nama Keyzia hampir tak terdengar lagi di blantika musik tanah air. Tak ada lagi panggung-panggung spektakuler dan tawaran job menyanyi. Single perdananya pun tak mendapat respon di pasaran. Namun yang terjadi dengan Mel justeru kebalikannya. Cewek itu semakin sukses sebagai penyanyi pendatang baru. Kehadirannya selalu dinanti khalayak, terutama remaja.
Keyzia akhirnya menemukan rahasia di balik kesuksesan Mel. Ternyata cewek berjilbab itu menggunakan cincin pengasih. Indonesia menjadi heboh! Kemunculan foto-foto cincin batu berwarna hijau itu, menggemparkan Nusantara. Banyak media mengangkat beragam cerita. Bahkan ada yang menyoroti; cincin yang dikenakan Mel adalah batu bertuah!
Dendam tersulut kembali. Keyzia ingin Mel terpuruk dan jatuh. Lalu ia turut menghebohkan berita tentang Mel dari sisi negatif. Fitnah tersebar, misi pun tercapai. Cinta terabaikan demi ambisi. Diam-diam, ternyata ia sangat berhasrat menguasai cincin milik Mel. Namun usahanya ini, justeru menguak rahasia dirinya: tentang masa lalu dan kehidupannya. Lalu, siapakah jati diri Keyzia yang sebenarnya? Dan mampukah ia mendapatkan merebut kesuksesan Melody?
..

Seperti yang sudah-sudah penulis berkaca mata ini berhasil membuat saya, rela bergadang demi menamatkan kisah penuh intrik ini. Penulis selalu berhasil membuat saya tidak tenang sebelum menamatkan cerita dan rahasia-rahasia yang mulai terkuak tentang jati diri Keyzia yang dulu sempat membuat saya pengen menjambaknya karena sikap arogan dan sombongnya.
Ada beberapa tokoh baru dalam cerita ini, diantaranya, Leea, Zahra, Ummi, Inu, Salmah, Aang dan yang paling menjadi paporit saya adalah kemunculan cowok berkharisma bernama Ragiel (uhuk-keselek) yang merupakan jembatan antara Keyzia dengan masa lalunya yang membuat saya terkejut dan sama sekali tidak terbayangkan.
..
Karena saya tidak mau terlalu spoiler. Jadi aku sangat merekomendesikan novel ini sebagai bacaan untuk mengisi waktu luang. Karena selain ceritanya yang asik abis dengan ending yang tak mudah ditebak. Novel ini juga mengajarkan banyak sekali hikmah dan pelajarn yang bisa kita dapatkan dalam memaknai hidup..
..
Aku kasih 4 bintang dari 5 bintang dan sangat berharap suatu saat nanti Mas Redy mau membuat cerita fantasi.. hehehe
..
Yogyakarta. Pandega Bakti 28.

Kamis, 07 April 2016

CERPEN "ALIEN YANG MERENGGUT IBUKU." DIMUAT DI KORAN PANTURA EDISI SELASA 5 APRIL 2016









Alien Yang Merenggut Ibuku
RAGIEL JP


Aku merindukan ibu yang dulu, ibu yang selalu bersikap lembut terhadapku, ibu yang tidak pernah memukul ketika aku berbuat salah. Ibu yang selalu sabar ketika aku mengacuhkannya. Aku merindukan ibu sebelum alien merenggutnya dariku. Meninggalkan tubuh ibu yang kosong seolah disusupi sosok lain. Dia ibuku, dengan wajah yang sama, dengan postur tubuh yang sama, tapi terlebih dari itu, semuanya berbeda, alien telah mengubah ibuku.
Kebiasaan ibu yang dulu hampir selalu dilakukan kini hanya tinggal cerita, ibu yang kini tidak pernah ingat tanggal ulang tahunku, padahal dulu, ibu paling semangat jika hari ulang tahunku tiba. Ibu selalu memberikan apa pun yang aku mau. Tapi kini, sejak alien itu mengubah ibuku, tidak ada lagi yang namanya perayaan ulang tahun.
Alien itu mengubah ibu sejak satu tahun yang lalu. Ketika adik perempuanku meninggal karena kecelakaan. Sejak saat itulah ibu berubah menjadi pendiam. Tidak melakukan apa pun. Tidak makan, tidak minum, ibu sangat kehilangan, sama seperti aku yang juga merasa sangat kehilangan seorang adik perempuan.
“Pasti Bibi yang mengambil uangku kan?!” terdengar sebuah suara keras dari arah dapur. “Ngaku saja, pasti Bibi yang mengambilnya.”
“Sumpah demi Allah bukan saya, Nyonya,” jawab Bi Tun, pembantu kami. “Saya tidak mencuri uang Nyonya.”
“Ngaku saja!” Ibu kembali menggebrak mejanya. “Tadi aku naruh uang di atas mesin cuci ini, tapi sekarang sudah tidak ada.”
Aku menghela napas mendengarnya, batinku selalu terasa perih jika alien itu kembali mengubah ibu. Aku tahu bahwa di rumah ini kami tidak mempunyai mesin cuci. Alien itu membuat ibu mengira bahwa kulkas adalah mesin cuci.
“Aku yang memindahkan uang itu, Bu,” kataku menyentuh bahu ibu. “Bi Tun tidak mencuri.”
Ibu hanya memincingkan mata mendengarnya, masih tidak begitu percaya dengan ucapanku. Alien itu pasti tengah menguasai tubuh ibu.
Memang bukan hanya kali ini saja ibu menuduh Bi Tun mencuri uang dan perhiasannya tanpa bukti. Alien itulah yang telah membuat ibu bersikap seperti ini. Pernah sekali aku melihat ibu sedang memarahi Bi Tun karena ditunduh mencuri perhiasannya, padahal aku tahu bahwa Bi Tun tidak mungkin melakukan itu, dan benar saja dugaanku, begitu aku mencari perhiasan ibu, aku menemukan perhiasan itu di tempat buah.
“Bi Tun yang sabar ya,” kataku menghampiri Bi Tun. “Jangan dimasukan ke dalam hati semua tuduhan ibu, aku percaya sama Bi Tun.”
Bi Tun mengangguk mendengarnya. “Ibu kenapa Den? Kenapa ibu sekarang berubah?”
“Tidak apa-apa,” jawabku tersenyum. “Mungkin ibu masih merasa kehilangan Nisa, nanti lambat laun ibu pasti akan kembali seperti semula lagi, kita harus sabar merawat ibu, Bi.”

***

Ibu kini juga lebih menarik diri dari pergaulan, setiap ada acara di dekat rumah, ibu selalu tidak hadir, ibu merasa tidak nyaman dengan keramaian. Ibu memilih asyik dengan dunianya sendiri, sering melamun, sering melakukan hal-hal aneh seperti memakai sepatu ke dalam kamar mandi ataupun transformasi ibu yang membuatku merasa sangat sedih adalah ibu sudah tidak mengenal beberapa tetangga yang dulu akrab dengannya.
“Ia siapa?” tanya ibu ketika beberapa tetangga datang berkunjung ke rumah kami. “Usir mereka semua, aku tidak kenal mereka, kamu harus mengusir mereka, Thom.”
“Aku Bu Narto,” kata perempuan paruh baya yang dulu sangat akrab dengan ibu. “Kita dulu sering pergi bersama, apa kau ingat?”
Ibu tampak berpikir, ibu mengamati Bu Narto dengan saksama. Selama beberapa saat ibu hanya terdiam melihat Bu Narto, hingga setelah satu menit kemudian, ibu kembali berkata bahwa ibu tidak mengenalnya.
“Aku yakin ibumu pasti akan sembuh, Thomas,” kata Bu Narto menghiburku. “Ini masalah yang wajar ketika menginjak usia senja, ibu juga dulu pernah mengalami masa sulit sepertimu, ibu hanya berpesan, sebaiknya kamu lebih bersabar merawat ibumu, anggap saja ini balasanmu sebagai anak, kamu harus ingat, ketika kamu masih kecil, ibumu juga merawatmu dengan penuh kasih sayang dan cinta.”
Aku hanya mengangguk. Aku tahu perubahan kepribadian ibu sama sekali bukan hal yang wajar, alien itulah yang memilih ibuku untuk menjadi inangnya, perlahan menghancurkan memori dan sistem tubuh ibu.
***
Seiring berjalannya waktu, alien yang menyusup ke dalam tubuh ibu semakin menguasai tubuhnya. Hari demi hari kondisi ibu semakin melemah, ibu sudah tidak mampu melakukan komunikasi dengan baik, tidak bisa berhitung dengan benar. Bahkan untuk memakai baju, ibu harus dibantu Bi Tun. Pernah terjadi dalam beberapa hari yang lalu, ibu membangunkanku pada tengah malam dan minta ditemani pergi ke tukang cukur rambut, atau pernah terjadi pada suatu malam ibu menangis dan mengatakan bahwa aku sudah tidak sayang lagi kepadanya.
Jika sudah seperti ini, terkadang aku menyesali semua waktu yang dulu terbuang begitu saja. Dulu aku tidak terlalu memerhatikan ibu, aku hanya sibuk dengan pekerjaanku, hanya adik perempuanku yang selama ini merawat ibu, dan setelah adikku meninggal, aku mengerti bahwa betapa aku sangat jahat terhadap ibu selama ini.
Dulu, ketika alien itu belum menyusup ke dalam tubuh ibu, aku sama sekali tidak pernah memperhatikan ibu, setiap kali ibu memintaku untuk pulang lebih awal hanya untuk sekadar makan malam, aku selalu menolaknya, aku lebih mementingkan makan malam dengan teman kantor daripada harus makan malam dengan ibu.
“Tidak bisakah kamu meluangkan waktu sebentar untuk ibu, Kak?” tanya Nisa kala itu. “Kak Thomas terlalu sibuk dengan pekerjaan, ibu hanya ingin makan malam bersama Kak Thomas.”
“Aku benar-benar sibuk, Nis,” jawabku setiap Nisa mengatakan hal itu. “Nanti kalau aku ada waktu pasti akan makan malam dengan kalian, kan ada kamu, aku yakin kamu bisa menemani ibu makan malam.”
“Tapi ibu ingin Kak Thomas juga ikut,” katanya lagi. “Apa pekerjaan itu tidak bisa ditunda sebentar?”
Aku menggeleng mendengarnya, mencoba pengertian adik perempuanku. “Tidak bisa, Nis, kakak harus segera menyelesaikan berkas-berkas ini, deadline-nya sebentar lagi.”
Nisa hanya menarik napas, dia tahu percuma saja memaksa jika aku sudah mengatakan bahwa pekerjaanku sangat banyak. “Baiklah kalau memang kakak sedang sibuk.”

***

Jika aku bisa memutar ulang waktu, aku hanya ingin menghabiskan waktu dengan ibu versi yang dulu, bukan ibu yang versi sekarang, menjadi inang sebuah alien yang menyusup di dalam tubuhnya, menebarkan pribadi lain yang sangat berbeda dengan sosoknya yang dulu.
“Ibu di mana, Bi?” tanyaku ketika pada suatu hari Rabu aku tidak melihat ibu di rumah. “Apa dia sedang tidur siang?”
“Tadi Nyonya ada di kamar, Den,” jawab Bi Tun.
“Tidak ada di kamar kok,” jawabku lagi. “Apa ibu pergi keluar?”
“Bibi tidak tahu,” jawab Bi Tun tampak cemas. “Tadi Bibi tinggal masak sebentar, Bibi tidak tahu kalau Nyonya tidak ada di kamar.”
“Tidak apa-apa, Bi,” jawabku lagi. “Sebaiknya kita cari ibu sekarang, aku takut terjadi sesuatu yang buruk.”
Maka siang itu kami mulai melakukan pencarian, aku meminta tolong kepada beberapa warga komplek untuk ikut membantu mencari ibu. Perasaan cemas mulai membanjiri dadaku, bagaimana jika ibu tidak bisa pulang ke rumah dan tersesat entah di mana? Aku yakin alien yang ada di dalam tubuh ibu yang membuat ibu mengalami disorientasi tempat dan waktu.
Sudah hampir tiga jam kami melakukan pencarian, namun tidak ada tanda-tanda ditemukan ibu, kami sudah menyisir beberapa kawasan di luar komplek pun ibu belum juga ditemukan. Perasaan cemas kembali membanjiri seluruh tubuhku, aku tidak mau kehilangan ibu seperti aku kehilangan adik perempuanku, aku ingin membantu ibu dalam menghadapi alien yang mengambil alih tubuhnya.
“Ibu di mana?” air mataku menetes membayangkan hal terburuk terjadi dengan ibu. “Aku minta maaf karena selama ini belum menjadi anak yang berbakti.”
Den Thomas yang sabar ya,” Bi Tun menyentuh bahuku yang berguncang menahan air mata. “Bibi yakin ibu pasti bisa ditemukan.”
Aku mengangguk. Aku terus berdoa agar ibu segera ditemukan.
Menjelang malam barulah ibu ditemukan oleh seseorang warga yang mengatakan bahwa ibu berada di sebuah kawasan pabrik yang jaraknya sangat jauh dari sini. Aku tidak tahu bagaimana ibu bisa sampai ke sana, tapi aku tetap bersyukur bahwa ibu bisa ditemukan dengan selamat.
Selalu ada hikmah dari setiap cobaan yang Tuhan berikan kepada umatnya. Jika aku yang dulu terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan, sampai-sampai tidak ada waktu untuk keluarga, seharusnya aku sadar bahwa status ibu sebagai single parent pastilah terasa berat dalam merawat kedua anaknya, tapi apa yang aku lakukan? Aku malah lebih tenggelam dalam duniaku sendiri, tanpa pernah peduli dengan ibu.
Dan kini, aku berjanji akan selalu ada untuk ibu, memang bisa dikatakan aku terlambat menyesali semua ini. Aku yakin kekuatan cintaku kepada ibu akan menyembuhkan ibu. Setidaknya walau tubuh ibu disusupi alien yang mengambil kuasa penuh atas dirinya, aku yakin kekuatan cintaku akan membantu ibu melawan alien bernama Demensia Alzheimer.

Rabu, 06 April 2016

CERPEN "PEREMPUAN PENUNGGU TITIK NOL." DIMUAT DI HARIAN RADAR MOJOKERTO EDISI MINGGU 3 APRIL 2016.












PEREMPUAN PENUNGGU TITIK NOL

RAGIEL JP


Setiap pagi saya melihat wanita itu duduk di bawah pohon beringin yang tumbuh di titik nol. Matanya memandang jauh ke arah selatan. Seolah sedang menunggu seseorang yang tak kunjung datang. Tempat duduknya pun tak pernah berubah selalu saja tepat di depan Benteng Vredeburg.
Pertama kali saya melihat wanita itu sekitar dua minggu yang lalu. Kebetulan saya selalu lewat jalan itu setiap kali menuju kantor tempat saya bekerja. Pada awalnya saya memang tidak terlalu memerhatikannya. Namun setelah selama dua minggu wanita itu tidak pernah beranjak dari tempat duduknya, saya pun mulai bertanya-tanya apa yang sebenarnya sedang ia tunggu.
Pernah saya bertanya kepada rekan saya mengenai perempuan penunggu itu. Tapi rekan saya bilang bahwa ia tidak pernah melihat wanita itu. Saya pun semakin dibuat penasaran karena dari tiga rekan saya yang saya tanya mengenai perempuan penunggu itu. Tidak satu pun yang pernah melihatnya.
“Kau perhatian sekali, Ras,” kata teman saya ketika saya kembali bercerita bahwa pagi ini saya kembali melihat perempuan penunggu itu. “Ada banyak perempuan yang duduk di titik nol setiap pagi. Mungkin ia hanya gelandangan.”
“Tapi ia selalu saja duduk di tempat yang sama,” kata saya tak puas dengan tanggapan rekan saya. “Ia juga selalu menghadap ke arah selatan, seolah sedang menunggu sesuatu.”
“Kenapa kau tidak coba tanyakan langsung kepada perempuan penunggu itu, Rasidi?” tanya rekan saya sepertinya bosan. “Daripada kau mati penasaran.”
Saya memang berencana untuk menemuinya secara langsung. Coba mencari jawaban kenapa ia selalu duduk di tempat itu. Seolah sedang menunggu sesuatu.

***

Sore harinya, ketika saya pulang dari kantor, saya sengaja berjalan kaki menuju titik nol untuk menemui perempuan itu. Saya sengaja berjalan kaki agar lebih efesien, karena menggunakan motor di jalan Malioboro yang macet pastilah bukan ide yang bagus.
“Kau mau ke mana, Rasidi?” tanya Tarmo, salah satu rekan kerja saya. “Kau tidak langsung pulang?”
“Mau menemui perempuan itu,” jawab saya mencangklongkan tas kerja.
“Perempuan penunggu titik nol itu?”
Saya mengangguk.
Saya tidak tahu apa kalau sore hari perempuan itu ada di sana. Saya tidak pernah tahu, soalnya kalau saya pulang ke kontrakan tidak pernah lewat jalan ini lagi.
Sore hari jalan Malioboro terlihat ramai seperti biasanya. Ratusan penduduk seolah tumpah di jalan. Beberapa pedagang hampir memenuhi setiap sudut. Mulai dari penjual sate, baju, aksesoris hingga penjual kacang rebus menyemut di sini. Suara bising kendaraan dan asap knalpot membuat dada saya terasa sesak.
Sekitar dua puluh menit kemudian saya sampai di titik nol kilometer. Mata saya menyapu tempat itu untuk mencari perempuan yang saya cari. Saya berjalan ke arah benteng dan tidak menemukan keberadaan perempuan itu. Saya jadi bertanya-tanya, apa perempuan itu hanya duduk di sini kalau pagi hari?
Saya mencoba bertanya kepada seorang wanita penjual sate yang kebetulan tidak jauh dari pintu masuk Benteng Vredeburg. Saya bertanya perihal wanita penunggu itu.
“Itu lho perempuan yang suka duduk di tempat itu,” kata saya menunjuk tempat yang biasa diduduki perempuan itu. “Ia biasa duduk di tempat itu dan memandang ke arah selatan. Ia juga sering memakai baju terusan berwarna merah muda.”
Penjual sate itu menggeleng. Mengatakan bahwa hari ini ia tidak melihat perempuan penunggu itu.
Maka sore itu saya memutuskan pulang dengan rasa penasaran yang semakin menggunung. Siapa sebenarnya sosok perempuan penunggu itu?
Mungkin karena saya terlalu memikirkan perempuan penunggu titik nol itu, saya sampai bermimpi sangat aneh. Dalam mimpi itu saya bertemu dengan ia. Perempuan itu tersenyum ke arah saya dan saya juga balas tersenyum. Saya memberanikan diri untuk duduk di sebelahnya.
“Halo…” Sapa saya ketika duduk di sebelah perempuan itu. “Boleh saya duduk di sini?”
Perempuan itu mengangguk, ia tersenyum sesaat sebelum akhirnya kembali memandang ke arah selatan. Seperti biasanya.
“Sudah lama di Jogja?” tanya saya memberanikan diri.
Perempuan itu berpaling ke arah saya. “Sudah dua tahun.” Jawabnya pelan. “Siapa namamu?”
Saya sedikit terkejut mendengar perempuan itu menanyakan nama saya. “Rasidi, nama saya Rasidi.”
“Aku Arum,” jawabnya memperkenalkan diri. “Sudah lama tinggal di Jogja?”
“Baru dua bulan,” jawab saya kikuk. “Kalau boleh tahu, kenapa kau selalu duduk di sini setiap pagi, Arum?”
Perempuan bernama Arum itu terdiam. Ia menundukan wajahnya. Saya bisa mendengar kalau perempuan itu menangis sesenggukan.
“Saya minta maaf kalau pertanyaan saya menyinggungmu…” saya merasa tidak enak hati begitu melihat perempuan itu menangis.
Arum mengangkat wajahnya. Air mata membekas jelas di pipinya yang kurus. Ia tersenyum sekilas sebelum kembali berbicara. “Aku sedang menunggu seseorang,” katanya akhirnya.
“Siapa?” tanya saya tanpa sadar. “Kau menunggu suamimu?”
Arum mengangguk. Ia kemudian mengeluarkan sesuatu dari dalam saku baju terusannya. Dan saya tahu bahwa itu sebuah foto.
“Ini anak perempuanku,” katanya memperlihatkan foto itu ke hadapan saya. “Namanya Kemuning.”
Saya memerhatikan wajah di dalam foto itu. Seorang remaja berusia sekitar tujuh belas tahun sedang berangkulan dengan Arum. Mereka berdua sangat mirip, mereka sama-sama mempunyai mata berwarna cokelat cerah dengan jidat yang hampir identik.
“Lalu di mana suamimu? Tanya saya ketika perempuan itu kembali memasukan foto itu ke dalam saku bajunya. “Apa ia tidak datang menemuimu?”
Perempuan itu hanya tersenyum. Dan setelah itu saya terbangun ketika mendengar alarm ponsel saya berbunyi nyaring.

***

Pagi harinya saya memutuskan untuk menemui perempuan penunggu itu. Saya semakin penasaran dibuatnya. Terlebih setelah saya bermimpi bertemu dengannya. Saya tidak tahu kenapa semua ini terjadi kepada saya, tapi yang jelas bahwa semua ini saling berhubungan.
Maka, setelah saya sarapan semangkuk soto yang saya beli di dekat rumah kontrakan, saya bergegas menghidupkan motor dan langsung meluncur ke titik nol.
“Semoga perempuan itu sudah di sana.” Gumam saya dalam hati. Saya melirik jam di tangan kanan yang sudah menunjukan pukul setengah tujuh pagi. Ini memang terlalu awal untuk masuk kantor. Tapi keputusan saya sudah bulat, saya akan menemui perempuan penunggu itu dulu sebelum ke kantor.
Beruntung jalanan pagi ini tidak begitu macet, karena lima belas menit kemudian akhirnya saya sampai di titik nol.
Suasana titik nol kilometer pagi ini tampak lenggang. Hanya beberapa orang yang sedang duduk-duduk atau sekadar olah raga lari. Setelah memarkirkan motor, saya berjalan ke tempat di mana perempuan itu biasa duduk.
Pandangan saya kembali menyapu tempat itu dan kembali tidak mendapati perempuan penunggu itu. Saya mulai merasa kecewa karena rasa penasaran saya tampaknya tidak menemukan jawaban. Saya jadi bertanya-tanya, di mana perempuan itu sekarang? Apa dia sudah bertemu suaminya?
Saya tidak menyerah kali ini. Saya memutuskan untuk menunggu perempuan itu di sini. Mungkin saya terlalu pagi datang ke sini. Bukankah biasanya saya melihat perempuan itu sekitar pukul tujuh lewat lima belas menit. Saya kembali melirik arloji di tangan kanan, baru menunjukan jam tujuh. Mungkin lima belas menit lagi perempuan itu akan datang.
Ponsel saya tiba-tiba berdering. Terpampang nama salah satu rekan kerja saya di layar ponsel. Saya segera menekan tombol hijau.
“Kau di mana, Rasidi?” tanya suara di ujung telepon. “Jam setengah delapan kau harus sudah sampai kantor. Bos mengatakan bahwa akan ada rapat mendadak.”
Saya mengembuskan napas sedikit kecewa karena tampaknya hari ini saya kembali gagal bertemu perempuan penunggu itu. “Sebentar lagi saya sampai,” kata saya mematikan telepon.
Saya bangkit dari tempat duduk ini. Mungkin Tuhan memang belum menakdirkan saya bertemu dengan perempuan penunggu itu. Saya kembali memasukan ponsel ke dalam tas kerja saya, merapikan seragam kerja—Ketika saya hendak menghampiri motor, mata saya membola begitu melihat seseorang yang sepertinya saya kenal.
Seorang remaja perempuan berambut panjang sebahu berjalan menuju tempat duduk yang baru saja saya tinggalkan. Ia membawa setangkai bunga mawar berwarna merah dan meletakan di tempat itu.
Saya bergegas menghampiri remaja itu karena saya yakin bahwa ia adalah Kemuning. Anak perempuan penunggu yang (mungkin) bernama Arum—yang semalam datang ke dalam mimpi saya.
“Maaf…” Kata saya begitu sampai di sebelah gadis itu. “Boleh saya tanya sesuatu?”
Gadis itu mendongak dan wajahnya tampak terkejut melihat saya. Gadis itu berdiri dan mundur beberapa langkah. Mungkin ia menganggap saya seorang penjahat.
“Saya bukan orang jahat,” saya mencoba tersenyum. “Nama saya Rasidi, saya cuma mau tanya apa kau Kemuning?”
Gadis itu tampak terkejut. “Bagaimana kau tahu?” tanyanya.
“Ceritanya rumit,” kata saya duduk di tempat itu. “Mungkin kau tidak akan percaya, tapi semalam ibumu datang ke dalam mimpi saya.”
“Apa?” wajah Kemuning semakin terkejut. “Tapi bagaimana mungkin?”
Saya pun kemudian menceritakan semuanya. Bahwa selama hampir dua minggu ini saya melihat ibunya duduk di tempat ini, terlihat seperti sedang menunggu sesuatu. Saya juga menceritakan tentang mimpi aneh semalam. Ibunya bercerita bahwa ia tengah menunggu suaminya, ataupun tentang foto Kemuning yang ditunjukan kepada saya.
“Kalau boleh tahu di mana ibumu sekarang, Kemuning? Kenapa ia tidak ada di sini? Apa ayahmu sudah kembali?”
Setitik air mata keluar dari ujung mata gadis itu, dalam keadaan setengah menangis ia berkata bahwa ibunya sudah meninggal tiga bulan yang lalu. Katanya ia meninggal tersambar petir ketika sedang menunggu ayahnya yang entah pergi ke mana.
Saya hanya terdiam dan merasa udara sedingin es mengelus leher saya.

Selasa, 08 Maret 2016

RAJA JATUH CINTA DIMUAT DI MAJALAH HAI EDISI 26 JAN - 01 FEB 2015




Ide awal cerpen ini berasal dari lagu Numata dengan judul yang sama. Soo, selamat membaca cerpen sederhana ini ya... :)



RAJA JATUH CINTA
BY
RAGIEL JP





    Sebagai seorang remaja berusia tujuh belas tahun, gue bisa dibilang mempunyai segalanya. Gue tampan dan kaya. Tidak susah bagi gue untuk mendapatkan hati para cewek yang ada di sekolah ini. Hanya tinggal memberikan bunga dan kata-kata romantis, gue jamin dalam hitungan tujuh detik, cewek itu akan tunduk seperti anak kucing.
     Bagi gue, cewek itu tidak ada ubahnya dengan sebuah baju. Mana yang pantas dipakai buat nonton, mana yang pantas dipakai buat ke pesta dan mana yang pantas dipakai buat makan malam. Gue tinggal pilih satu di antara banyak cewek yang sudah gue jadikan pacar, gue tidak peduli dengan perasaan mereka begitu mengetahui gue mempunyai cewek lain, toh kalau mereka minta putus, yang rugi mereka sendiri.
     Gue tidak peduli dengan sebuatan Raja jatuh cinta yang diberikan dua sahabat gue, Adit dan Abi. Bagi gue sebutan itu malah menjadi sebuah kebanggaan tersendiri, menandakan bahwa semua cewek di sekolah ini menginginkan gue.
     “Lo udah jadian sama Niken?” tanya Abi saat kami sedang berada di kantin. “Bukannya lo masih jadian sama Nadia itu?”
     “Nadia udah nggak menarik lagi buat gue,” jawab gue cepat. “Kalau lo mau ambil saja dia, bro.”
     “Bukankah baru satu minggu yang lalu kalian jadian?” timpal Adit terus mengunyah bakso yang dia pesan.
     “Jangan panggil gue Raja Hutama kalau gue nggak bisa dapetin Niken,” kata gue nyengir. “Gue udah nggak ada kecocokan lagi sama Nadia.”
    Dari kejauhan, gue melihat seorang cewek datang mendekati gue, cewek itu adalah Niken. “Hai, semuanya…” sapa Niken ceria saat gue mempersilakannya untuk duduk di sebelah gue.
     “Lo mau makan apa, honey?” tanya gue pura-pura mengambil bulu mata yang jatuh di mata Niken.
     “Apa aja deh,” Niken tersenyum ketika gue usap pipinya dengan lembut. “Asal makan sama lo, gue sudah bahagia.”
     Gue tersenyum paling manis mendengarnya. Gue melirik ke arah Adit dan Abi untuk meninggalkan meja ini. Adit dan Abi akhirnya meninggalkan gue dan Niken. “Lo cantik, pasti sangat beruntung yang jadi cowok lo nanti.”
     Niken kembali tersenyum, kali ini dia agak tersipu. “Lo berlebihan, Raja, gue cewek yang biasa saja.”
    “Bicara lo sangat indah, Niken,” gumam gue menggunakan kata-kata pamungkas. “Senang rasanya bisa duduk sama lo, membicarakan tentang masa depan kita yang indah, bagaimana menurut lo?”
     “Apanya?”
     “Masa depan kita, maukah lo menemani gue menggapai masa depan?”
     “Raja… gue...”
     “Gue cinta lo,” kata gue langsung, tanpa basa-basi. “Maukah lo jadi pacar gue?”
     Niken mengangkat wajahnya dan gue langsung tahu jika Niken telah termakan rayuan gue. Wajah Niken kembali bersemu merah ketika gue membelai kepalanya. “Niken, gue mencintai lo.”
     Niken mengangguk menerima cinta gue.

***

    Sama seperti hubungan yang sudah-sudah, hubungan kami hanya bertahan dua minggu, gue benar-benar sudah bosan dengan Niken. Gue tidak peduli ketika Niken menangis tersedu-sedu ketika  gue memutusnya. Gue tentu saja tidak mudah terpengaruh dengan air mata itu itu. Gue tetap memutuskan Niken.
   “Kali ini siapa korban selanjutnya?” Adit menggeleng-gelengkan kepalanya ketika gue menceritakan perihal putusnya hubungan gue sama Niken. “Lo benar-benar playboy, setiap bulan lo selalu ganti cewek, bener-bener gila lo.”
     “Cewek bagi gue itu seperti baju,” Kata gue terpesona dengan seorang gadis yang  tiba-tiba lewat di hadapan gue. “Kalau sudah bosan, bukankah sebaiknya kita ganti yang baru.”
Abi dan Adit hanya tertawa.
     “Bagaimana kalau kita taruhan?” tantang Adit tiba-tiba.
     “Taruhan apa?” tanya gue cuek.
     “Lo kenal Malla?”
     “Yang tampilannya cupu itu?” gue jijik jika mengingat gadis berkacamata tebal itu. “Ada apa dengan dia?”
    “Bagaimana kalau kita taruhan, apakah lo bisa membuat Malla jatuh cinta sama lo dalam waktu satu minggu?”
     “Apa taruhannya?” gue cukup bimbang untuk menerima tatangan Adit untuk mendekati Malla.
     “Kalau lo bisa membuat Malla jatuh cinta sama lo dalam waktu satu minggu, gue traktir lo selama tiga bulan.”
     “Gue nggak setuju. Bagaimana jika gue menang, lo yang pacaran sama Malla?” tantang gue balik. “Jika gue berhasil membuat dia jatuh cinta sama gue, lo harus ngumumin di lapangan kalau lo mencintai Malla.”
     “Deal.” Adit menjabat tangan gue. “Itu berati jika lo gagal, lo harus mengumumkan kepada semua orang yang ada di sekolah bahwa lo mencintai Malla?”
     Gue mengangguk sebagai jawaban.
     Maka dimulailah misi gue mendekati Malla. “Hai…” sapa gue ketika melihat Malla di perpus. “Boleh gue bicara sebentar sama lo?”
     Malla hanya mengangkat wajahnya. “Gue nggak ada waktu,” jawab Malla meninggalkan gue sendirian di perpus.
     Hari kedua gue menjalankan misi ini, tampaknya juga gagal, dia menolak ketika gue memberinya bunga. Bahkan, pada hari ketiga gue dekati Malla, dia dengan sangat sok menolak gue saat gue mencoba untuk mengajaknya nonton bioskop.
     Pada hari keempat akhirnya Malla mulai mau mengajak gue bicara walau hanya dijawab dengan kata “em” dan “ya”. Tapi setidaknya, dalam tiga hari kedepan gue mungkin mempunyai kesempatan untuk membuat Malla jatuh cinta pada gue.
     Hari kelima dan keenam, entah kenapa gue mulai merasa ada sebuah perasaan aneh ketika Malla mengajak gue ke sebuah panti asuhan yang selama ini dikelolanya. Sumpah, gue sama sekali tidak menduga jika Malla mempunyai sifat mulia seperti ini. Melihat sifat dan tabiat Malla saat mengurusi seorang anak autis, membuat gue malu terhadap diri sendiri. Gue yang selama ini selalu hidup dalam kemewahan seolah sedikit mendapat cahaya terang dari ketulusan Malla. Jika selama ini gue menganggap semua cewek hanya seperti baju, tapi tidak dengan dia, gue merasa bahwa Malla ada sebuah koleksi baju yang sangat mahal dan langka.
     Hari ketujuh. Ini adalah hari terakhir gue bertaruhan dengan Adit, gue mengaku kalah dengan Adit karena akhirnya gelar Raja jatuh cinta yang gue sandang selama ini telah dikalahkan Malla. Gue bersyukur karena kalah dari taruhan itu, sehingga gue bisa menutupi kebenaran jika gue telah benar-benar jatuh cinta kepadanya.

Selasa, 01 Maret 2016

NUKILAN MARS



Tutuplah matamu dan hitunglah sampai tujuh. Begitu membuka mata, kamu akan melihat sebuah keajaiban.


Mungkin ada yang ingin membaca salah satu bab di novel MARS :D





6
INSIDEN



   Ribuan kunang-kunang seperti melayang-layang di atas kepala ketika aku membuka mata. Dunia seolah berputar membuatku mual dan pusing. Aku kembali mengerjap-ngerjapkan mata, berusaha menyesuaikan keadaan di sekitar. Rasa-rasanya aku mendengar beberapa suara yang sudah kukenal. Tapi siapa mereka? Mata dan kepalaku masih terasa berat.
   Sebuah sentuhan lembut dan hangat membelai pipiku. Perlahan namun pasti, aku membuka mata secara pelan, dan cukup terkejut begitu melihat sosok yang ada di hadapanku.
   “Ibu...” kataku pelan. “Kenapa ibu di sini?”
   “Tentu saja kami ingin menjengukmu, Nak,” jawab ibu mengelus rambutku. “Kamu pingsan selama dua hari.”
   Aku baru tersadar di mana aku berada. Bau obat-obatan menyadarkanku bahwa aku sedang berada di rumah sakit. Agiel dan Bowo juga ada di sini, wajah mereka terlihat sangat cemas.
   “Kenapa aku ada di sini?” tanyaku bingung. “Apa terjadi sesuatu denganku?”
   “Kamu tidak ingat kegilaan yang telah kamu lakukan, Joe?” tanya Bowo tersenyum di sampingku. “Apa yang kamu pikirkan? Menyelam ke tengah laut dan menyelamatkan anak itu seorang diri, kamu bisa saja celaka kan?”
   Aku tersenyum mendengarnya. Aku ingat semuanya, kejadian di Parangtritis yang hampir saja merenggut nyawaku. “Aku hanya ingin menyelamatkan anak itu. Apakah dia baik-baik saja?”
   “Tentu saja dia baik-baik saja,” jawab Agiel bergabung di sebelah kananku. “Aku akui kamu sangat pemberani, Jordan. Tapi kamu juga sangat bodoh, harusnya kamu meminta tolong pada regu penolong begitu melihat anak itu.”
   “Aku tidak berpikir sampai ke situ,” jawabku saat ibu kembali mengelus lenganku dengan sayang. “Aku tidak tahu kegilaan apa yang saat itu merasukiku.”
   “Kami semua bangga padamu, Jordan…” kata ibu dengan lembut. “Walau ayahmu tentu saja berpikir kamu itu sakit jiwa  karena menyelamatkan anak kecil seorang diri, tapi pada intinya ayahmu juga sangat bangga padamu.”
   Aku tersenyum mendengar penuturan ibu. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan ayah lakukan bila bertemu denganku nanti, mungkin dia akan melarangku kuliah di Jogja, atau mungkin lebih parah, dia akan menghukumku dengan melarangku berada dekat-dekat dengan laut selama satu dekade.

***


   Satu minggu berlalu sejak kejadian heroik yang aku lakukan di Parangtritis. Tampaknya suasana sudah kembali normal seperti biasa, sudah tidak ada lagi pujian ataupun pertanyaan-pertanyaan yang selalu saja sama setiap kali aku berpapasan dengan mahasiswa lain di koridor. Pertanyaan bagaimana aku menyelamatkan anak kecil itu.
   “Bagaimana rasanya menjadi bintang kampus selama satu minggu, Jordan?” tanya Agiel kembali terkekeh.
   “Rasanya aku terlihat lebih tampan dari sebelumnya,” jawabku apatis, Agiel dan Bowo pun tertawa mendengarnya.


   Selimut malam telah digelar, berhiaskan bintang-bintang berserakan bagai jutaan lilin yang melayang-layang di langit malam. Di pertengahan bulan September aku menghabiskan malam Minggu seorang diri. Agiel sedang berkencan dengan Niken di Bukit Bintang, sedangkan Bowo, sejak peristiwa yang menimpaku di Parangtritis, tampaknya dia sudah mulai akrab dengan Luna.
   Aku termenung sendiri di dalam kamar, sebagian besar penghuni kost sedang bermalam Minggu dengan pasangannya masing-masing. Aku sibuk berkutat dengan laptop hanya sekadar main game dan browsing beberapa bacaan.
   Setelah kurang lebih setengah jam aku berkutat dengan laptop untuk mencari berbagai berita terbaru, hingga akhirnya aku mendapati sebuah berita yang membuat jantungku berdetak cepat. Judul itu bertuliskan Penampakan UFO di langit Bracknell, Inggris. Aku membaca berita itu dengan seksama.
   Aku mengeklik tautan itu dan mulai membacanya.

Inggris kembali digemparkan dengan beredarnya kabar tentang
Penampakan UFO yang terjadi di langit Bracknell pada tanggal
14 Juni lalu…
Sang saksi mengatakan bahwa benda bercahaya itu adalah UFO.
Menurut penuturan saksi yang melihat benda bercahaya itu
Melayang ke arah barat daya dan hilang secara misterius..
Banyak yang menduga kalau benda bercahaya itu adalah UFO
Yang melintasi bumi, dan hal tentang penampakan UFO dan alien
Memang bukanlah kali ini saja terjadi. Menurut penuturan Mc. David, salah satu penduduk yang tinggal di Bracknell, di tempat ini memang sering terlihat penampakan UFO...

   Jantungku berdetak sangat cepat begitu selesai membaca berita itu, aku teringat tentang benda bercahaya menyilaukan yang juga kulihat di langit Jogja beberapa minggu lalu. Apakah benda itu adalah UFO yang sama seperti terlihat di Inggris?
   Aku kembali mencoba mencari berbagai berita mengenai keberadaan UFO dan alien yang sampai saat ini masih menjadi misteri yang belum terpecahkan. Pro dan kontra antara para ilmuwan masih terus terjadi mengenai keberadaan mahluk-makluk yang hidup di luar bumi. Salah satu planet yang diyakini sebagai tempat tinggal alien adalah Mars. Berbagai penemuan situs kuno yang dipercaya sebagai jejak alien bertebaran di berbagai penjuru dunia. Dan salah satu situs kuno yang cukup terkenal tentang jejak campur tangan alien adalah bangunan Piramid di Mesir. Banyak para ahli yang menduga bahwa bangunan Piramid itu bukanlah semata-mata sebagai makam kuno, mereka menduga ada simbol-simbol rahasia yang berhubungan dengan alien. Selain Piramid di Mesir dan Stonehenge di Inggris, tampaknya masih ada jutaan bangunan kuno lain yang dipercaya sebagai hasil karya campur tangan mahluk-mahluk cerdas dari luar bumi. Bahkan aku mempunyai dugaan bahwa Candi Borobudur mungkin bisa dikatakan sebagai salah satu bangunan kuno yang mungkin saja dibangun dengan campur tangan alien.
   Begitu banyak berita yang kubaca mengenai keberadaan UFO Dan alien membuatku semakin merasa yakin bahwa ada kehidupan lain di luar bumi yang tidak bisa dijangkau oleh akal manusia.
   Perutku tiba-tiba terasa lapar. Aku melihat arloji yang menunjukan pukul sembilan malam. Aku memutuskan untuk mencari makan malam.
   Angkringan Kali Code di daerah Kotabaru adalah tempat yang aku tuju malam ini. Aku sering menghabiskan malam minggu di sini bersama Agiel dan Bowo, tak jarang pula aku mengajak Luna ke tempat ini saat Agiel ataupun Bowo absen menemaniku.
   Suasana angkringan ini sangat ramai dengan banyaknya pengunjung yang datang ke tempat ini. Memang tempat ini juga salah satu favorit tempat nongkrong di kalangan mahasiswa Yogyakarta. Pemandangan Kali Code sangat indah dengan lampu-lampu temaram yang menyinarinya.
  Aku memesan segelas kopi Joss dan sepiring mie goreng untuk mengganjal perut yang sudah kelaparan. Setelah memesan makanan itu, aku duduk di atas tikar yang digelar di tempat itu dan menikmati suasana Kali Code yang terasa eksotik.
   Embusan angin malam dan gemuruh arus sungai yang membelah kota Jogja dapat terdengar jelas dari sini. Aku bisa melihat riak air sungai yang berkilau gelap dari atas jembatan ini.
   “Jordan…” Sebuah suara merdu membuat jantungku berdetak sangat cepat begitu mendengarnya. Aku terpaku begitu melihat  dua wajah malaikat yang kini ada di hadapanku.
   “Julia…” kataku tercengang melihat dua wajah malaikat yang kini ada di hadapanku. “Kamu di sini?”
   Julia mengangguk dan duduk di hadapanku dengan sangat anggun. “Ini Carissa,” kata Julia memperkenalkan seorang gadis malaikat yang datang bersamanya. “Carissa, ini Jordan.”
   Gadis bernama Carissa itu mengulurkan tangannya yang seputih pualam ke arahku, dan aku menyambutnya.
   Carissa seperti tak nyaman dengan keberadaan orang-orang di sekeliling kami, dia bahkan terlihat gusar saat penjual angkringan membawakan pesananku dengan tatapan terpesona melihat Julia dan Carissa.
   Tampaknya bukan hanya penjual angkringan yang terpesona dengan Julia dan Carissa. Hampir semua wajah-wajah cowok yang ada di tempat ini mengalihkan pandangannya ke arah kami, seolah kami bertiga adalah tontonan yang sangat langka. Sedangkan para cewek yang datang bersama pasangannya memandang Julia dan Carissa dengan tatapan mencela.
   Aku merasa risih dengan tatapan mereka. Aku merasa tidak enak hati melihat Julia dan Carissa terlihat seperti kuda di pelenglangan.
   “Sebaiknya kita pergi dari sini,” kataku berpaling ke arah Julia dan Carissa saat seorang laki-laki berotot bersiul dengan kurang ajar ke arah kami. “Sepertinya tempat ini tidak baik untuk kalian.”
   “Halo, cewek,” laki-laki berotot itu menghampiri kami dan berusaha menyentuh pipi Julia yang langsung aku tepis.
   “Bisa tidak Anda bertingkah sopan?!” kataku keras saat lelaki bertato itu tampak terhina mendengar ucapanku. “Apa Anda tidak pernah diajari sopan santun?!”
   “Apa masalahmu, bocah ingusan?!” jawab lelaki itu berang, dia mencengkeram depan bajuku. “Kamu pikir kamu siapa, kamu hanya anak ingusan.”
   “Mereka temanku,” balasku memandang mata bengis itu. “Kamu tidak boleh mengganggunya.”
   Lelaki bertato itu tertawa mengerikan dan mencengkeram depan bajuku semakin erat. “KAMU TIDAK TAHU SIAPA AKU, HAA?!” gertaknya menampar wajahku. “AKU BARON, ORANG YANG MENGUASAI KAWASAN INI.”
   Aku meringis perih mendapat tamparan itu, beberapa pengunjung mulai berhamburan meninggalkan angkringan dengan tatapan ngeri, sedangkan penjual angkringan tampak menciut di bawah meja jualannya seraya menerima uang dari para pengunjung yang membayarnya secara tergesa-gesa.
   “Tempat ini bukan milikmu, Baron,” kataku pedas. “Kamu hanya preman tak berkualitas yang menjarah uang dengan sangat menjijikan. Harusnya kamu malu.”
   Wajah Baron berubah merah mendengar penghinaanku, dia hampir saja melayangkan pukulan ke perutku sebelum Julia menyiram wajah Baron dengan kopi Joss. Baron melepaskan cengkraman dan mendekat ke arah Julia.
   “Jangan ganggu dia!” raungku mencoba bangkit untuk menolong Julia. Aku menarik kaos oblong yang dipakai Baron dan mencoba memukul punggungnya dengan segenap kekuatanku.
   Tubuh kekar Baron tampaknya tidak merasakan pukulanku, dia berpaling ke arahku dan melayangkan sebuah pukulan keras ke perut hingga aku merasakan kesakitan yang teramat sangat. Julia menjerit dan menghampiriku saat aku jatuh terjembab.
   “Ambil cewek itu kalau dia pacarmu,” kata Baron menyeringai ganas saat Julia membantuku berdiri. “Aku lebih tertarik dengan cewek yang satu ini.”
   Baron menghampiri Carissa dengan ekspresi menjijikan, seolah seekor serigala yang sedang mendekati kelinci buruannya.
   Aku bersiap untuk menolong Carissa dari bencana yang lebih besar atas apa yang akan dilakukan Baron. Dengan rasa sakit yang teramat sangat di bagian perut, aku menghampiri Baron yang semakin dekat dengan Carissa...sebelum aku berhasil menarik kaos oblong yang dikenakan Baron, tubuh Baron terpental menghantam motor yang terparkir di tepi jalan.
   Aku tertegun melihat apa yang terjadi dengan Baron, rasanya mustahil bahwa Carissa yang telah melakukan pukulan menakjubkan terhadap Baron.
   Carissa berdiri dengan canggung, dia terlihat melepaskan kepalan tangannya saat Baron bangkit dengan mulut berdarah, Baron menatap ngeri ke arah Carissa, dan sedetik kemudian Baron berlari meninggalkan tempat ini.
   “Apa dia yang melakukannya?” tanyaku kepada Julia yang juga tampak terkejut. “Bagaimana dia melakukannya?”
   Ekspresi datar Julia sulit kutebak, dia menghampiri Carissa dan mereka terlibat dalam sebuah percakapan kecil. Tampaknya Julia sedang menasehati Carissa dan Carissa membantahnya. Dan setelah terjadi percakapan kecil selama setengah menit, Carissa meninggalkan Julia dengan wajah masam, dia menuju sebuah mobil chevrolet hitam yang terparkir tidak jauh dari tempat ini. Carissa menyalakan mobil dan langsung melesat meninggalkan kami.
   Julia menghampiriku. “Kamu tidak apa-apa?” katanya saat aku meringis merasakan rasa ngilu kembali menjalar di tubuh. “Aku antar ke rumah sakit ya?”
   “Aku baik-baik saja, Julia,” jawabku menahan rasa ngilu di perut. “Aku tidak perlu ke rumah sakit.”
   “Kalau begitu ijinkan aku memeriksanya,” Julia mengulurkan tangannya ke arahku. “Siapa tahu aku bisa menyembuhkan rasa sakit itu.”
   Julia mengarahkan tangannya ke perutku, untuk beberapa saat dia memejamkan mata dan sedetik kemudian kehangatan menjalari perut dan menjalar ke seluruh tubuhku. Rasa hangat itu menghilangkan semua rasa sakit ini.
   “Bagaimana sekarang?” Julia tersenyum. “Apa masih sakit?”
   Aku memegangi perutku dan merasakan rasa ngilu itu telah lenyap seketika. Aku memandang Julia dengan tatapan heran. “Bagaimana kamu melakukannya? Bagaimana kamu bisa menyembuhkan rasa sakit secepat ini?”
   “Ini bakat alami yang kumiliki, Jordan,” Julia menepuk-nepuk kedua tangannya. “Sama sepertimu yang mempunyai bakat sebagai Sang Pelihat.
   “Sang Pelihat?” aku mengerenyitkan kening mendengar penuturan Julia. “Apa maksudnya?”
   “Kamu mempunyai bakat istimewa yang tidak dimiliki kebanyakan manusia lain, Jordan,“ jawab Julia dengan nada suara yang berhati-hati. “Kemampuanmu sebagai Sang Pelihat, mungkin satu-satunya yang di dunia ini.”
   “Aku tidak paham, aku tidak mengerti dengan Sang Pelihat itu, tentu saja aku Sang Pelihat, aku punya mata kan?”
   Julia menggeleng dengan anggun. “Sang Pelihat dalam makna lain, Jordan,” katanya menatapku tajam. “Kamu mempunyai bakat khusus untuk melihat sesuatu yang orang lain tidak bisa lihat.”
   “Apa bakat seperti bisa melihat hantu?”
   “Bakat yang ada padamu lebih hebat daripada sekadar melihat hantu,” jawab Julia menyentuh bahuku. “Aku bertaruh hampir semua cendikiawan dan para ilmuan rela melakukan apa pun untuk mendapatkan bakat unikmu.”
   “Aku tidak mengerti maksudmu, Julia?” tanyaku lagi. “Sang Pelihat apa yang kamu maksud?”
   Julia tampaknya tidak mau memberitahukan tentang bakat istimewa yang konon ada padaku, dia hanya memberikan sebuah petunjuk bahwa bakat itu bukanlah bisa melihat hantu. Tapi Sang Pelihat dalam arti lain.


..
Bagi yang ingin memesan novel MARS, silakan hubungi saya :D